Pada 2050, Wearable Kesehatan Berpotensi Hasilkan Sejuta Ton E-Waste

Data Narasi – Pada 2050, penggunaan perangkat wearable kesehatan diperkirakan akan semakin meluas, seiring dengan berkembangnya teknologi dan meningkatnya kesadaran akan pentingnya pemantauan kesehatan secara real-time. Wearable Kesehatan, seperti smartwatch, gelang kebugaran, dan alat pemantau kesehatan lainnya, memungkinkan pengguna untuk memantau detak jantung, kualitas tidur, kadar oksigen, hingga aktivitas fisik secara terus-menerus. Namun, di balik manfaat yang ditawarkan, ada tantangan besar yang perlu dihadapi: dampak lingkungan akibat e-waste.

E-waste, atau limbah elektronik, merupakan masalah global yang semakin mendesak. Di masa depan, wearable kesehatan diperkirakan akan menjadi salah satu kontributor utama terhadap pertumbuhan e-waste. Sebuah studi memperkirakan bahwa pada 2050, perangkat wearable kesehatan berpotensi menghasilkan sejuta ton e-waste. Angka yang sangat besar ini tentu menjadi peringatan bagi kita semua tentang perlunya upaya berkelanjutan dalam mengelola limbah elektronik.

Penyebab utama dari proyeksi ini adalah siklus hidup perangkat wearable yang relatif pendek. Seiring dengan cepatnya inovasi teknologi, banyak perangkat yang cepat usang dan digantikan dengan model yang lebih baru dan lebih canggih. Perangkat yang sudah tidak terpakai sering kali berakhir sebagai limbah elektronik yang sulit terurai. Masalah ini diperburuk oleh komponen kecil dan bahan elektronik di dalam perangkat wearable yang sulit untuk didaur ulang dengan efisien.

Salah satu faktor utama yang memperburuk situasi ini adalah penggunaan material yang tidak ramah lingkungan dalam pembuatan perangkat wearable, seperti baterai lithium-ion dan plastik yang sulit terurai. Banyak perangkat wearable menggunakan baterai yang tidak dapat dilepas, yang menyulitkan proses daur ulang. Selain itu, ukuran kecil dari perangkat wearable juga membuatnya lebih sulit untuk diproses dalam fasilitas daur ulang tradisional.

Namun, ada harapan untuk mengurangi dampak lingkungan dari e-waste wearable kesehatan. Beberapa perusahaan teknologi sudah mulai fokus pada desain perangkat yang lebih ramah lingkungan, dengan menggunakan bahan yang lebih mudah didaur ulang dan mengurangi ketergantungan pada bahan berbahaya. Selain itu, munculnya inisiatif daur ulang dan pengelolaan limbah elektronik di beberapa negara dapat membantu mengurangi jumlah e-waste yang berakhir di tempat pembuangan akhir.

Konsumen juga dapat memainkan peran penting dalam mengurangi dampak ini dengan merawat perangkat wearable mereka lebih lama, memperbaiki perangkat yang rusak daripada menggantinya, serta memastikan perangkat lama didaur ulang dengan benar. Program trade-in atau tukar tambah yang ditawarkan oleh beberapa produsen juga dapat menjadi langkah menuju pengelolaan limbah elektronik yang lebih baik.

Dalam menghadapi proyeksi sejuta ton e-waste pada 2050, kolaborasi antara produsen, konsumen, dan pemerintah akan menjadi kunci untuk menciptakan solusi yang lebih berkelanjutan dan ramah lingkungan. Ke depan, kita harus memikirkan cara untuk menikmati manfaat teknologi tanpa merusak bumi tempat kita hidup.