Data Narasi – Aktivis Iran dan kelompok advokasi hak digital kini semakin vokal meminta pemerintah Amerika Serikat untuk mengaktifkan atau mendukung penggunaan Teknologi internet satelit seperti Starlink di tengah pemadaman internet nasional yang dilakukan oleh otoritas Iran. Langkah ini dianggap sebagai cara efektif untuk memulihkan akses komunikasi dan informasi di tengah upaya rezim Iran memutus konektivitas digital warga negaranya selama gelombang protes besar-besaran yang melanda negara tersebut sejak awal Januari 2026.
Sejak blackout internet nasional dimulai pada 8 Januari 2026, hampir semua jaringan internet tradisional di Iran termasuk layanan fiber, data seluler, dan jaringan domestik diputus oleh pemerintah dengan tujuan menghambat koordinasi dan penyebaran informasi di antara para demonstran serta mencegah laporan independen ke luar negeri. Langkah ini terjadi di tengah meningkatnya ketegangan politik dan protes di lebih dari 100 kota, yang juga memicu respon keras aparat keamanan.
Dalam konteks ini, layanan Starlink jaringan internet satelit milik SpaceX yang dirancang untuk menyediakan akses global dari orbit rendah Bumi telah menjadi sorotan utama. Meskipun secara resmi layanan ini tidak berlisensi di Iran dan perangkatnya dilarang, ribuan terminal Starlink telah dilaporkan berhasil diselundupkan ke negara tersebut oleh berbagai organisasi non-profit dan aktivis yang ingin memberi akses internet kepada warga yang terkepung oleh pembatasan.
Beberapa kelompok aktivis, termasuk di luar Iran, mendesak pemerintah AS untuk mengambil peran lebih tegas dalam mengizinkan dan memperluas penggunaan Starlink sebagai solusi bagi warga Iran yang terisolasi secara digital. Mereka berargumen bahwa akses internet bukan hanya kebutuhan teknologi, tetapi juga hak asasi manusia penting yang harus dilindungi dalam situasi krisis. Desakan ini muncul di tengah kekhawatiran bahwa pemerintah Iran berencana memperpanjang atau bahkan mempermanenkan pemutusan akses internet global, serta membangun jaringan internet nasional yang sangat terkontrol.
Menanggapi tekanan tersebut, terdapat laporan bahwa SpaceX mulai memberikan akses layanan Starlink tanpa biaya di Iran untuk membantu mengatasi pemutusan total konektivitas. Beberapa aktivis mengatakan bahwa perusahaan atau mitra terkait telah mengaktifkan layanan gratis pada terminal yang ada di negara itu sehingga warga dapat terhubung ke internet global. Namun, tantangan teknis berupa jamming atau gangguan sinyal yang dilakukan pihak berwenang Iran masih signifikan, dan akses tetap tidak merata.
Rezim Iran sendiri bereaksi keras terhadap fenomena ini. Pemerintah melarang penggunaan Starlink dan bahkan mengancam dengan hukuman berat kepada siapa pun yang memasang perangkat satelit ini, dengan tuduhan operasi tanpa izin dan dapat dikategorikan sebagai spionase. Di beberapa wilayah, aparat keamanan bahkan menggunakan drone untuk mencari dan menonaktifkan perangkat yang mencurigakan.
Kelompok aktivis tetap optimistis bahwa teknologi seperti Starlink dapat menjadi cara untuk melindungi kebebasan informasi dan komunikasi. Mereka menilai bahwa keterlibatan pemerintah AS dalam mendukung akses internet satelit di Iran bisa memperkuat hak warga untuk berkomunikasi, berbagi laporan langsung dari lokasi konflik, dan mencegah rezim menggunakan isolasi digital sebagai alat untuk menutupi pelanggaran hak asasi manusia.
Isu ini kini juga menjadi bagian dari diskusi geopolitik yang lebih luas mengenai kebebasan internet, teknologi satelit, dan peran negara dalam melindungi hak digital di era yang semakin tergantung pada konektivitas global. Banyak pengamat percaya bahwa bagaimana pemerintah AS dan perusahaan teknologi menanggapi permintaan tersebut akan memiliki implikasi penting tidak hanya bagi Iran, tetapi juga bagi upaya global untuk mempertahankan akses internet di bawah rezim yang represif.