Polutan Ganggu Kesehatan Burung Laut, Ini Dampak Merkuri Dan PFAS

Data Narasi – Polutan kimia yang masuk ke ekosistem laut memiliki dampak serius terhadap kesehatan burung laut. Dua jenis polutan yang paling mengkhawatirkan adalah merkuri dan senyawa perfluoroalkil serta polifluoroalkil (PFAS). Kedua zat ini bersifat persisten, artinya tidak mudah terurai di lingkungan, sehingga menumpuk dalam rantai makanan laut dan akhirnya mencapai burung laut melalui ikan, krustasea, atau organisme laut lainnya yang mereka konsumsi.

Akumulasi polutan ini tidak hanya mengganggu Kesehatan individu burung, tetapi juga berpotensi mengancam populasi spesies tertentu. Merkuri, terutama dalam bentuk metilmerkuri, sangat toksik dan dapat menyebabkan kerusakan sistem saraf pada burung. Paparan merkuri jangka panjang dapat memengaruhi kemampuan navigasi, koordinasi, dan kemampuan mencari makanan. Selain itu, merkuri juga berisiko mengganggu sistem reproduksi burung laut.

Telur yang terkontaminasi merkuri memiliki tingkat kelangsungan hidup yang lebih rendah, sehingga menimbulkan penurunan jumlah keturunan. Efek kumulatif dari paparan ini dapat berdampak signifikan terhadap populasi burung laut, terutama spesies yang berada di puncak rantai makanan. Sementara itu, PFAS dikenal sebagai senyawa selamanya karena sangat sulit terurai. PFAS dapat menumpuk dalam jaringan lemak burung laut dan mengganggu fungsi hormon, sistem kekebalan tubuh, serta metabolisme. Burung yang terpapar PFAS menunjukkan penurunan kualitas telur, gangguan pertumbuhan anak, dan tingkat kematian yang lebih tinggi.

Selain efek langsung terhadap kesehatan individu, PFAS juga berpotensi mengganggu perilaku migrasi dan kemampuan adaptasi burung terhadap perubahan lingkungan. Masuknya polutan ini ke ekosistem laut seringkali berasal dari aktivitas manusia, seperti limbah industri, pembuangan sampah, dan pencemaran air. Burung laut, sebagai indikator kesehatan laut, mencerminkan kondisi ekosistem yang terganggu. Penurunan kualitas kesehatan burung laut menunjukkan bahwa polusi kimia juga berdampak pada organisme laut lain dan keseimbangan ekosistem secara keseluruhan.

Mengatasi masalah ini memerlukan pendekatan terpadu, termasuk pengawasan ketat terhadap emisi merkuri dan PFAS, pengelolaan limbah industri yang lebih baik, serta konservasi habitat burung laut. Kesadaran masyarakat dan regulasi yang tegas akan menjadi kunci untuk melindungi burung laut dari dampak polutan, sekaligus menjaga kesehatan ekosistem laut secara keseluruhan. Dengan langkah-langkah preventif, populasi burung laut dapat bertahan dan fungsi ekosistem tetap terjaga.